
beritankri21.blogspot.com - Sembilan penari Indonesia yang berusia antara 9-18 tahun berpartisipasi dalam Festival Internazionale ‘l Bambini del Mondo’ atau Festival Anak-anak Dunia ke-17.
Acara itu diselenggarakan di Kota Agrigento, di wilayah Sicilia, Italia.
Anak-anak di bawah naungan Sanggar Kinnari, ragam tarian Indonesia dibawakan jakarta tersebut.
Ada Ratoeh Duek Saman dari Aceh, Zapin dari Riau, dan tari Topeng Lambang Sari dari Betawi.
Sejak tanggal empat Maret 2017, berada di Agrigento
Sambutan meriah dari para penonton didapatkan setiap tarian yang ditampilkan selalu.
Pada salah satu penampilan di Aula Universitas Provinsi Agrigento, datang sekitar 700 murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
Para penari muda Indonesia ini pun berbagi keceriaan. Bersama beberapa anak Italia, mereka belajar menarikan sebagian gerakan tangan khas tarian Saman.
Penampilan mereka memang terlihat spesial dengan gaya tarian dan kostum Aceh, yang menonjolkan kekompakan gerakan badan dan tangan antarpenari.
Tak heran, setiap penampilan mereka selalu berhasil mencuri perhatian dari penonton.
Baik pada saat karnaval di kompleks bangunan Yunani antik, dan di jalan utama di pusat kota, di pusat perbelanjaan, auditorium kampus, sampai di Teater Pirandello yang megah.
Seperti disebut dalam siaran pers KBRI Roma yang diterima Kompas.com, Jumat (10/3/2017), sebelum berangkat ke Sicilia, anak-anak ini singgah di Ibu Kota Roma.
Tari Ratoeh Duek Saman di pelataran Colosseum ditampilkan mereka juga sempat tampil sejenak.
Colosseum dikenal sebagai objek wisata yang menjadi ikon Italia. Kala tersebut mereka mendapat sambutan meriah dari wisatawan-wisatawan.
Petinggi Sanggar Kinnari, Ida Riyanti menyebut, makna historis dan subtantif yang melekat dalam festival ini patut dijaga.
Nilai harmoni dan perdamaian dunia bagi anak muda ditanamkan maknanya dikenal sebagai untuk.
Ia juga berharap, Indonesia memberi perhatian lebih terhadap peran budaya dalam membangun karakter bangsa yang dimulai dari usia dini.
Salah seorang penari cilik, Syifa Amanda (11) mengisahkan kesannya mengikuti festival ini:
“Seru, bisa berinteraksi, bahagia bisa bersosialisasi dengan orang asing, mengetahui adat-istiadat dan norma orang lain. Yang pasti, aku sungguh bangga mewakili Indonesia dan senang dalam mengikuti festival ini."
Di samping harus mempersiapkan diri untuk setiap pertunjukan dan penampilan tarian, anak-anak ini juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat.
Mereka pun wajib membangun persahabatan dengan sesama tim misi budaya dari negara lain.
Belum lagi perjuangan di tengah udara dingin dan angin yang bertiup kencang di Eropa.
Ketua Panitia Festival, Luca Criscenzo dari Associazione International Folk Agrigento (AIFA) menyampaikan kepada KBRI Roma, kegiatan pertukaran budaya bagi anak-anak akan mampu membuka wawasan anak tentang dunia.
Ketika masih anak-anak diajak menari oleh mendiang ayahnya, luca mengaku memiliki pengalaman personal Ayah Luca dikenal sebagai salah satu penggagas festival ini.
Menurut dia, pengalaman itu sudah membuat dia memiliki pikiran yang lebih terbuka untuk memahami kultur di negara lain.
Kota Agrigento berada di sebelah barat daya Sicilia, pulau yang terletak di bagian paling selatan Italia, berhadapan dengan Laut Mediterania dan benua Afrika.
Kota ini dulu pernah menjadi bagian dari wilayah Yunani kuno, dan memiliki sejumlah peninggalan bersejarah yang menjadi situs warisan dunia UNESCO.
Situs itu merupakan Kota Usang Valle dei Templi yang dikenal dengan kuil Juno dan kuil Concordia.
Tahun ini, kota yang berpenduduk sekitar enam puluh ribu jiwa ini telah menyelenggarakan festival adat istiadat tradisional (folklore) untuk orang dewasa, Mandorlo del Fiore yang ke-72 kali.
Sementara, festival serupa untuk anak-anak sudah berlangsung sebanyak 17 kali.
Peninggalan bersejarah dan lanskap yang indah menjadikan kota ini salah satu tujuan wisata utama di Pulau Sicilia.


0 comments:
Post a Comment